Oleh: Haerul Saleh

Dunia Islam saat ini sering diwarnai dengan kekerasan, komunitas muslim hampir di seluruh bagian dunia ter-expose dengan kekerasan didalamnya dari dunia paling timur di Afrika, Asia, dan bahkan Eropa. Kita melihat kekerasan yang sering diasosiasikan dengan konflik fisik, perang dan terorisme terjadi di Sudan dan Nigeria dimana terjadi konflik antara muslim dan Kristen, di Pakistan dengan konflik perebutan kekuasaan para elite politiknya yang tiada akhir sampai saat ini, di Indonesia menarik perhatian dunia dengan serangkaian kasus bom seperti: Bali I dan II dan JW. Marriot, dan kelompok Abu Sayyap and MILF yang meneror daerah selatan Philippina, serta di negara-negara ex- Uni soviet seperti Chechnya and Russia yang selalu di bayangi oleh gerombolan Chechen. Banyak lagi komunitas-komunitas muslim lain yang intensitas konfliknya tidak juga mereda, seperti di Afganistan, Irak, dan Palestina .

Sangatlah absurd untuk menganalisa sekian banyak kasus konflik di dunia Islam diatas dengan satu jawaban karena setiap konflik kekerasan mempunyai motif dan latar belakang yang berbeda. Jadi untuk mengatakan bahwa Islam adalah kekerasan bukanlah suatu kesimpulan yang tepat untuk semua kejadian kekerasan tersebut. Akan tetapi kedekatan umat Islam dengan konflik baik dalam internal muslim sendiri atau dengan pemeluk agama lain menyebabkan legitimasi asumsi global akan kedekatan Islam dengan kekerasan. Lalu bagaimana reaksi umat Islam terhadap anggapan ini?. Untuk mengevaluasi ini pelu kiranya kita telaah ajaran Islam sendiri tentang konsep kekerasan. Kekerasan yang dikaji di sini adalah kekerasan ynag berbentuk konflik fisik baik internal muslim maupun dengan non-muslim bukan term-term kekerasan lain misalnya kekerasan dalam rumah tangga. Diakhir kajian ini saya juga sedikit akan mengomentari kasus-kasus kekerasan yang kerap kali terjadi di Indonesia akhir-kahir ini.

Kekerasan dalam Islam

Tak disangkal bahwa beberapa ayat Al-Qur’an menyebut tentang kewajiban seorang muslim untuk berjihad mengangkat senjata atau berperang. Sedikitnya ada 20 ayat yang sering dijadikan landasan untuk mengangkat senjata atau berperang bagi seornag muslim. Ayat-ayat tersebut terdapat dalam Surat: Al-Baqarah (2): 190-193, 216, 224, Ali Imran (3): 157-158, 169, 195, An-Nisa (4): 101, 74-75, 89, 95, Al-Maidah (5): 36, 54, Al-Anfal (8): 12-17, 59-60, 65, At-Taubah (9): 5, 14, 29, Muhammad (47): 4, dan Ash-Shaff (61): 4.

Al Baqarah: 190

“ Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Berdasarkan banyaknya ayat yang menganjurkan untuk berperang, para orientalist mengasumsikan bahwa Islam mendukung kekerasan atau perang. Mungkin, jika ditinjau dari beberapa ayat diatas bisa diasumsikan kedekatan ajaran Islam dengan kekerasan atau perang tetapi di lain sisi juga Islam menyuruh untuk menegakkan perdamaian di muka bumi seperti pada ajaran untuk bersabar (Qur’an 39: 10) dan menghindari perbuatan fasad kerusakan (Qur’an 2: 205). Lebih dari itu, kata Islam sendiri secara etymology mengandung arti damai, selamat, aman, dan penyerahan diri. Karena itu dengan jelas Al-Qur’an menyatakan Muhammad (baca: Islam) diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (wamaa arsalnaaka illaa rahmatan lil ‘alamin). Karena itu apapun bentuk perusakan di bumi ini tidaklah sesuai dengan nilai-nilai rahmatan dalam Islam itu sendiri.

Lalu mengapa kekerasan tetap saja terjadi? Menurut saya, sedikitnya ada tiga psychological forces yang mendorong terjadinya kekerasan yang terjadi pada umat Islam:

1.      Pada dasarnya dalam diri manusia ada dua kekuatan besar yang saling berlawanan. Disatu sisi manusia mempunyai ‘ego’ dan di sisi lain manusia di anugerahi ‘kesadaran’.

Yusuf: 53

Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Wahiduddin Khan (n.d.) menjelaskan bahwa kekerasan muncul akibat dominantnya ego manusia; sedangkan, perdamaian adalah hasil dari kesadaran manusia untuk berintrospeksi diri dan penghargaan diri.

2.      Klaim akan agama yang paling benar pada setiap agama, secara langsung atau tidak, bisa menyebabkan kurangnya penekanan akan toleransi pada agama lain. Ayat Al-Qur’an: “Innaddiina ‘indallahil islam” dan “wama yabtaghi ghairal islami diinan falaa yuqbala minallahi…” adalah deklarasi akan satu-satunya agama yang diakui oleh Allah itu semata hanya Islam. Pada sebagian umat Islam menginterpretasikan ayat ini secara kaku sehingga menyebabkan kehidupan keberagamaan menjadi kurang harmonis. Padahal pada ayat lain Allah juga menjelaskan bahwa dalam hal beragama Allah memberi kebebasan bagi pemeluk agama lain (laa ikraaha fiddiin).

3.      Pemahaman terhadap ayat dan hadits secara partial menyebabkan sempitnya sudut pandang terhadap ajaran Islam itu sendiri. Misalnya, pemahaman terhadap hadits: ‘man ra’a munkaran fal yughayir biyadihi, wainlam yastati’ fabilisanihi, wainlam yastati’ fabiqalbihi, wazalika adh’aful iman’. Keyakinan bahwa derajat iman paling tinggi dalam hadits tersebut adalah ketika ada keberanian untuk merubah suatu kemunkaran dengan ‘tangan’ atau dengan kegiatan fisik. Maka jalan yang dilakukan adalah menghentikan satu kemunkaran dengan aksi fisik atau bahkan kekerasan. Hal ini tentu saja membiaskan konsep dasar dakwah dalam Islam yang menonjolkan hikmah (kebijaksanaan) dan mauidzah hasanah (nasihat-nasihat kebajikan)-(ud’u ilaa sabili rabbika bilhikmati wal mau idzhah hasanah).

Dalam sejarah Islam membuktikan bahwa motivasi terjadinya kekerasan atau perang beragam. Pada jaman Nabi Muhammad SAW. peperangan terjadi dengan tujuan pertahanan diri dari serangan luar, kesetaraan, dan keadilan ekonomi. Beberapa orientalist mengatakan bahwa sepanjang kenabiannya (23 tahun), Muhammad melakukan sedikitnya 80 kali peperangan. Wahiduddin Khan (n.d.) menyangkal asumsi ini dan menyatakan pada kenyataannya bahwa Nabi sepanjang kenabiannya melakukan perang hanya tiga kali, yaitu: Badr, Uhud, dan Hunayn. Jadi pada dasarnya Nabi sendiri berusaha untuk menyelesaikan masalah dengan perdamaian karena ia berupaya untuk sebisa mungkin menghindari peperangan.

Pada jaman Khulafa al-Rasyidin,motivasi terjadinya peperangan mulai meluas. Pada jaman Abu Bakar,  perang pada dasarnya dilakukan untuk menegakkan ajaran Islam dan ekoonomi seperti upaya memerangi pembangkang yang tidak mau membayar zakat.  Tujuan perang di masa Umar bin Khattab mulai melebar karena ia berusaha untuk meluaskan daerah kekuasaan Islam di semenanjung Arabia. Sementara dua khalifah terakhir sibuk mengurusi perebutan kekuasaan diantara mereka dan pengikutnya.

Kekerasan dalam bentuk peperangan berlanjut ketika dua keluarga besar Islam muncul dalam sejarah. Dinasti Abbasiyah dan Umayyah adalah dua kekuatan besar Islam yang dalam sejarahnya banyak melakukan perang untuk perluasan wilayah Islam dan pertahanan wilayah Islam itu sendiri. Menurut saya, kenyataan ini bukanlah hal yang ‘luar biasa’ dalam artian bahwa pada jaman tersebut peradaban masih didominasi oleh kekuatan senjata. Jadi perang yang dilakukan oleh umat Islam tidaklah anomaly dari peradaban yang berlaku pada saat itu. Terbukti pada jaman selanjutnya antara Islam dan dan penganut agama Kristen melakukan perang yang sangat lama hampir satu abad ketika terjadinya Perang Salib.

Kedekatan potensi kekerasan dala Islam sering kali muncul karena kesalahan interprestasi akan kata jihad. Di bawah ini akan kita bahas sedikit tentnag kata jihad itu sendiri.

Jihad

Kata jihad berarti: berusaha, berjuang, dan berperang. Akan tetapi makna jihad sering mejadi sempit pada arti yang terakhir atau ‘perang’ sehingga panggilan untuk berjihad sering diartikan panggilan untuk berperang. Tak dapat dinafikan bahwa Al-Qur’an memang menyuruh umat Islam untuk mengangkat senjata pada surat al-Hajj (22): 39.

“Diizinkan (berperang) bagi orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa menolong mereka itu.”

Dalam hal ini Al-Qur’an mengajarkan bahwa setidak ada dua tujuan utama untuk berjihad atau perang, yaitu: pertahanan diri-self defense (9: 13) dan perlawanan terhadap penekanan-protection from oppression (2: 190-195) (Badawi 2006; Khan n.d.). Jadi tidaklah seorang muslim berangkat mengangkat senjata untuk berperang atas nama Islam kecuali demi dua tujuan kuat diatas.

Akan tetapi Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa jihad tidak hanya memerangi orang lain. Dalam hal memerangi diri sendiri (jihadun nafs) juga termasuk kategori jihad. Dr. Jamal Badawi (2006) mengatakan bahwa Al-Qur’an surat Al-Hajj: 77-78 berisi anjuran jihadun nafs. Jihadun nafs berarti perjuangan melawan syaitan dan kelemahan-kelemahan diri sendiri (self purification).

Jadi pemaknaan yang sempit terhadap kata jihad menyebabkan pembiasan kata jihad dalam kehidupan umat Islam itu sendiri. Dalam konteks ini perang sering diartikan dengan membunuh orang non-muslim meskipun dengan cara membunuh diri sendiri (baca: bom bunuh diri). Bukankah al-Qur’an juga menyuruh kita untuk menjaga diri sendiri dari kerusakan diri kita sendiri (walaa tulkuu bi aidiikum ila attahlukah).

Islam dan kekerasan di Indonesia

Tak dapat dipungkiri bahwa kejadian 11 September 2001 merupakan salah satu pemicu maraknya kekerasan di dunia Islam, khususnya di Indonesia. beberapa hal yang menjadi faktor dominant terhadap munculnya kekerasan pada umat Islam Indonesia adalah: Pertama, kemarahan atas kebijakan luar negeri Amerika Serikat (Esposito, dikutip oleh Ahnaf n.d.), sebagai ‘polisi dunia’, yang tidak seimbang dan bahkan double standard.  Hal ini tentu saja memancing semangat ‘jihad’ kelompok tertentu sehingga mereka me-response dengan tindakan-tindakan radikal dan keras. Kedua, politik keterbukaan sebagai konsekuensi dari jatuhnya Suharto menyebabkan menjamurnya kelompok-kelompok garis keras dalam Islam. Abuza (2007, p. 1) mengatakan bahwa di fase reformasi ini, Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dalam pertumbuhan civil society namun di sisi lain muncul pula “uncivil” society. Apakah kelompok radikal Islam ini adalah kelompok “uncivil” society seperti yang dimaksud Abuza? Bila barometer civil society yang dimaksud adalah masyarakat yang menghormati hak-hak azasi manusia dan kebebasan individu yang berdasar pada Piagam PBB maka tidak bisa dingkari kelompok ini termasuk didalamnya tetapi mungkin akan berbeda pandangan dengan platform kelompok-kelompok garis keras tersebut.. Ketiga, pendiskriminasian berita tentang Islam pada media massa menyebabkan pembentukan opini yang tidak seimbang tentang Islam. Hal ini tentu saja menyulut sentiment-sentiment emosionil umat Islam, seperti pada kasus tentang kartun Nabi Muhammad.

Kiranya gambaran umum tentang Islam dan kekerasan di Indonesia secara singkat bisa kita lihat diatas. Tetapi setiap kasus kekerasan baik etnis dan agama akan sangat tepat untuk dijawab dengan analisa kasuistik, seperti di Maluku, Poso, Ahmadiyah, dan sebagainya.

Referensi:

Abuza, Z. 2007, Political Islam and violence in Indonesia, Routledge, New York.

Ahnaf, M.I. n.d., Violence and non-violence in Islam: jihadi, just-war, and active non-violence (online). Available: http://www.emu.edu/ctp/journal/1/ahnaf.pdf.

Badawi, J. 2006, Jihad a call to humanity (online). Available: http://www.islamicforumeurope.com/live/ife.php?doc=articleitem&itemId=326.

Khan, M.W. n.d., Non-violence and Islam (online). Available: http://www.alrisala.org/Articles/papers/nonviolence.htm.

Oleh Ardy Arsyad*)

(disampaikan sebagai bahan diskusi dalam Pengajian dwi-pekanan  MIIAS 20 Januari 2008, di Religious Center Flinders University, Adelaide) 

Lalu Fir’aun dan balatentaranya dapat menyusul mereka pada waktu matahari terbit. Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, “kita akan benar-benar tersusul”. Musa menjawab, “sekali-kali tidak akan tersusul”. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Lalu kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar.  Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya. Kemudian kami tenggelamkan golongan yang lain. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda kebesaran Allah, tetapi kebanyakan tidak beriman. (Asy-Syu’ara: 60-67)

Kemarin, tepatnya 19 Januari 2008 bertepatan dengan tanggal 10 Muharram 1429 Hijriah. Momen penting yang selalu diperingati oleh ummat Islam sebagai Hari Asyura yang dipercayai sebagai momen pada saat mukjizat (miracle) diberikan Allah SWT kepada rasul-rasul. Salah satunya adalah hari pada saat Nabi Musa AS dan kaum Israil meloloskan diri dari kejaran balatentara Fir’aun melalui sebuah peristiwa yang menakjubkan yakni jalur pelarian Nabi Musa AS dan kaumnya di sekitar Laut Merah terbelah dan memungkinkan untuk disebrangi guna menuju ke The Promised Land. Kaum Yahudi memperingati The Exodus sebagai Passingover.

Peristiwa terbelahnya Laut Merah merupakan peristiwa yang luar biasa. Hal ini merupakan mukjizat dari Nabi Musa AS yang wajib kita percayai sebagai bagian dari iman. Namun, peristiwa mukjizat tersebut juga dapat dipahami dan dijelaskan dari perspekstif sains. Hipotesis yang bisa dijadikan dasar adalah bahwa segala peristiwa yang Allah SWT berikan kemuliaan (miracle) sebenarnya tidak akan pernah lepas dari proses alam yang mahakompleks sebagai bagian dari sunnatullah. Ketika itu terjadi, peristiwanya bisa dijelaskan dalam berbagai teori ilmiah, namun momentum dan tempat terjadinya merupakan mukjizat yang Allah SWT sendiri berikan khusus bagi hamba yang dikehendaki-Nya.

Berikut akan dipaparkan berbagai teori ilmiah mengapa laut bisa terbelah pada saat Nabi Musa AS dan Kaum Israil menyebranginya.

Modeling of the Hydrodynamic Situation During the Exodus

Dengan menggunakan persamaan differential matematika, dua peneliti Rusia berupaya membuat pemodelan tentang kondisi ketika gelombang laut terpisah (Stolyarova, 2004). Naum Volzinger dan Alexei Androsov, mendasarkan pemodelan mereka dengan keterangan-keterangan di Kitab Old Testament dan Torah, termasuk keterangan bahwa pada saat itu terdapat gugusan karang yang jaraknya dekat dengan permukaan laut.

Dalam pemodelan hidrodinamik, diadakan simulasi berapa kecepatan angin yang diperlukan  dan kekuatan badai yang dibutuhkan agar gugusan karang tersebut kering pada saat laut surut. Selain itu, juga disimulasikan berapa lama gugusan karang akan kering dan kapan air laut akan kembali menutupinya (Volzinger and Androsov,2002).

Hasilnya adalah jika angin timur bertiup sepanjang malam dengan kecepatan 30 meter per detik, maka gugusan karang akan kering. Dengan keadaan ini, untuk menyebrangi 7 km gugusan karang, Kaum Israil yang sebanyak 600.000 orang membutuhkan waktu 4 jam. Air laut kembali menutupi gugusan karang setelah 4,5 jam. Ini berarti durasi selama 4,5 jam gugusan karang masih kering.

Dari hasil pemodelan Volzinger dan Androsov, diketahui bahwa dibutuhkan angin berkecepatan 30 m per detik agar gugusan karang menjadi kering dan bisa disebrangi. Kecepatan 30 m per detik berarti 108 km/jam. Dalam skala Beaufort, kecepatan angin 108 km/jan sudah dapat dimasukkan dalam kategori Storm yang minimal mencapai skala 10 dengan kecepatan diatas 89 km/jam dengan durasi 12 hingga 1200 jam. Kecepatan 108 km/jam ini masih di bawah kecepatan minimal “ Tropical Cyclone (Hurrycane)” yang mencapai 118 km/jam dan “Tornado” (177 km/jam).

Penelitian Volzinger dan Androsov (2002) menyatakan terbelahnya laut Merah ketika Nabi Musa AS bereksodus dimungkinkan, setelah memprediksi karakteristik hidrodinamika dan berdasarkan pemodelan numerik berbasis persamaan differential matematika.  Namun, pertanyaan yang bisa dikemukakan dalam hal ini adalah apakah peristiwa Laut Merah terbelah bisa terulang. Volzinger dan Androsov menyatakan bahwa gugusan karang laut yang ada telah bergeser jauh dari permukaan laut. Jadi tidak lagi memungkinkan (Stolyarova, 2004).

Akan tetapi, penelitian Volzinger dan Androsov masih berbasis simulasi komputer, dan belum dijabarkan dalam studi kasus, atau dalam eksperimentasi laboratorium. Selain itu, Volzinger dan Androsov (2002) tidak menejalskan berapa ketinggian gelombang yang terjadi akibat hembusan angin 108 km/jam. Padahal, dalam Qur’an disebutkan bahwa ketika laut itu terpisah, terjadi dinding gelombang setinggi bukit (Asy-Syuara:65).

Patut dicatat, mengenai gugusan karang lokasi penyebarangan Nabi Musa AS juga perlu dipertanyakan. Hingga kini, lokasi dimana Nabi Musa AS menyeberangi laut Merah juga masih dalam perdebatan para arkeolog, ini akan dijelaskan pada bagian berikutnya. Pertanyaan lain yang bisa dikemukakan adalah apakah angin 108 km/jam memungkinkan manusia untuk berlari sejauh 7 km. Dan apakah dalam beberapa dokumen sejarah, memang terjadi angin sekuat itu? Dalam kitab Eksodus, dikatakan pada saat itu terjadi kolom-kolom awan dan kilat. Apakah ini memiliki kemiripan dengan tanda-tanda storm (badai)?

Lokasi terjadinya pelarian Nabi Musa AS ketika eksodus dapat ditemui dari Kitab Exodus 14:2, yakni tempat sebelum Pi-Hahiroth (antara Migdol dan laut) dan diseberangnya adalah Baal-zephon. Tiga tempat ini belum diketahui secara pasti. Namun banyak yang percaya bahwa tempat itu berada disekitar Reed Sea (bukan Red Sea) dekat Kota Suez sekarang, sebelah utara Teluk Aqaba.

Beberapa teori yang mengatakan bahwa tempat tersebut ada di sekitar Sabhat al Bardawil (sebuah lagoon di utara Semenanjung Sinai). Lokasi ini ada dalam Peta (Gambar-1) di bawah yang menunjukkan gap sempit antara pantai Mesir dan Arab Saudi di sekita Teluk Aqaba yang diyakini merupakan crossing place Nabi Musa AS. Hal ini diperkuat dari morfologi 3D dasar lautan disekitar Teluk Aqaba dimana terdapat dataran yang relatif lebih dangkal (Gambar-2 dan 3) dibandingan pada daerah yang lain yang lebih curam dan dalam. Jika ini ada kemiripan dengan apa yang dimaksud dalam Kitab Taurat dan asumsi Nauman dan Andorsov (2002) sebagai daerah karang yang dangkal.

Selain itu di lokasi itu pernah ditemukan juga fakta arkeologi berupa roda Chariot (kendaraan Perang semasa Fir’aun) oleh Ron Wyatt dan Jonathan Gray (Kovacs,2003). Meskipun masih disangsikan oleh Richard Rives Roda ini sempat diukur usianya melalui radiasi karbon. Nassif Mohammed Hassan menyatakan roda tersebut berasal dari dinasti ke-18 Kerajaan Mesir Kuno, atau dengan kata lain roda ini pernah digunakan sekitar 1400 SM. Sayangnya, keberadaan roda ini hanya diketahui sekitar tahun 1970-an. Hingga kini upaya untuk menemukan lokasi yang tepatnya tidak dilaksanakan (Kovacs,2003).

Lokasi crossing Musa AS di sekitar Teluk Aqaba juga dibenarkan oleh Colin Humpreys (2003). Selian Teluk Aqaba, Humpreys juga menyakini bahwa tempat Nabi Musa AS menerima Ten Commandments berada di Mount Sinai yang sekarang disebut Jabal El Musa, di daerah Arab Saudi sekarang. Lennart Moller dari Karolinska Institute in Stocholm juga mendukung pendapat Humpreys, namun dia tidak sependapat dengan Teori angin yang bisa membelah lautan.

Mengenai angin yang kuat, ternyata dapat diperoleh keterangan dari Kitab Perjanjian lama Exodus 14:21, dan dari tradisi Yahudi The Song of the Sea dalam memperingati the Passingover tentang angin dari timur yang bertiup kencang untuk membelah lautan ketika Exodus terjadi.

Volcanic Eruption Santorini dan Tsunami

Teori yang kedua adalah adanya letusan vulkanik Thera yang dahsyat di daerah Santorini, sebuah kepulauan Yunani, 500 mil utara Delta Sungai Nil. Letusan terjadi diperkirakan pada  1600 SM, terbesar dalam sejarah. Effek dari letusan vulkanik Santorini dapat dirasakan hingga ke sungai Nil, menimbulkan “the 10 plagues” (wabah penyakit di Mesir), kegagalan panen di Cina, dan konon menenggelamkan kota legenda “Atlantis” (La Moreaux, 1995; Foster et.al, 1996, Davis, 1990, BBC On-Line, 2007).

Dalam simulasi komputer, diestimasi bahwa letusan Thera telah meng-kolapskan kepulauan Santorini dan telah menjadi trigger bagi terjadinya mega-tsunami berupa gelombang setinggi 600 feet atau sekitar 200 meter, bergerak dengan kecepatan 400 mil per jam ( Moses, BBC One,2002). Floyd Mc Coy, ahli tsunami, mengatakan bahwa tsunami ini telah yang menyebabkan kehancuran dasar laut Mediterrania dan menyebabkan sedimentasi. Simulasi komputer melacak bahwa penyebaran sedimen menjadi bukti bahwa gelombang tsunami Santorini telah mencapai delta Sungai Nil.

Pertanyaanya adalah dapatkah tsunami membelah the Reed Sea (bukan Laut Merah yang banyak diyakini orang, berada di sekitar Kota Suez Mesir)? Floyd McCOy menyatakan bahwa sebuah mega tsunami ini bisa jadi menyebabkan lautan mengering karena dari prosesnya, mega tsunami akan menyerap trilyunan gallon air dari pesisir pantai, sungai dan danau. Sebagai akibat, terjadilah pengeringan laut di sekitar pesisir selama 2 jam. Temuan ini tidaklah jauh berbeda dari kasus Tsunami di Mindoro Filipina tahun 1994. Ketika itu, di Mindoro, terjadi Gempa bumi yang menciptakan retakan yang sangat besar di dasar danau Mindoro sepanjang kira-kira 1 mil. Air di danau kemudia terhisap ke dalam retakan tersebut sehingga danau itu pun menjad kering. Seorang saksi mata menyatakan ia dapat berjalan di atasnya. Beberapa waktu kemudian, tsunami datang dan menyapu sebuah perahu-perahu yang totalnya berbobot kira-kira 6000 ton. Kekuatan tsunami Mindoro sangat jauh di bawah tsunami Santorini (Moses, BBC One, 2002), sehingga dapatlah dibayangkan berapa kekuatan Mega Tsunami Santoro. Keyakinan McCOy juga serupa dengan Professor Costas Synolakis, seorang ahli tsunami.

Pertanyaan selanjutnya, apakah benar tsunami Santorini benar-benar se-momen dengan Nabi Musa membelah lautan?  Cameron dan Simcha Jacobovici, produser film dari Kanada mengklaim bahwa letusan Thera benar-benar terjadi persis ketika Musa AS membelah laut Reed. Mereka percaya bahwa letusan ini juga menjadi penyebab dari The 10 Plagues sebagaimana di nukilkan di Bible.

Mengenai The 10 plagues,seorang Epidemiologist, Dr. John Marr percaya bahwa letusan Thera lah yang menjadi penyebabnya berdasarkan kasus serupa ketika St Helena meletus  pada 17 Mei 1980 (BBC One, 2002). Menurutnya, debu vulkanik bisa menjadi penyebab berbiaknya jamur beracun di Sungai Nil. Daniel Stanley, seorang oceanographer, melakukan pengeboran sampel di delta Sungai Nil. Ia mendapatkan debut-debu vulkanik berkaitan dengan letusan.  Mike Rampino, seorang ilmuwan dari New York University membuat simulasi komputer untuk melihat bagaimana efek dari Letusan Thera. Didapatkan bahwa telah terjadi perubahan cuaca yang signifkan, temperatur turun sekitar 2o celcius. Curah hujan berkurang. Proses ini menjadi mata rantai dari turun drastinya ekologi sungai Nil ketika itu  dan tentunya bisa jadi akan menimbulkan wabah penyakit.

Selain the Plagues, dari Bible diceritakan bahwa ketika Musa AS memimpin eksodus, Tuhan mengarahkankannya dari asap di waktu siang dan api di waktu malam. Menurut beberapa ilmuwan, ini bisa diperkirakan sabagai kolom asap dan kilat dari letusan Thera.

Namun dari hasil radio karbon pengukuran letusan Thera, dipastikan letusan terjadi sekitar 1600 SM, berbeda 150 tahun dari perisitiwa Exodus Nabi Musa AS yang diperkirakan sekitar 1450 SM (Bennet, 1963). Kesimpulan ini juga didukung oleh La Moreaux (1995), dan Phillips, G (2003).  Selain itu, dari kronologi peristiwa, jelas ada kerancuan antara kapan terjadinya the Plagues, Letusan Thera, dan the Exodus.

Kesimpulan

Terbelahnya lautan dalam proses kejadian Nabi Musa AS memimpin eksodus kaum Israil dari kejaran balatentara Fir’aun dapat dijelaskan melalui sains, paling tidak sebagai pendekatan untuk memahami bagaimana Allah SWT tetap menjaga mahakompleksnya alam semesta dan memberikan keistimewaan kepada hamba yang dikehendakinya. Harun Yahya mengatakan bahwa Jika Allah SWT menghendaki, keajaiban bisa saja terjadi jika kondisinya memungkinkan yang dalam kasus Nabi Musa AS, dimana kecepatan angin, waktu dan tempat mendukung proses terjadinya. Keajaiban dalam peristiwa ini adalah kejadian laut mengering tepat terjadi ketika Nabi Musa AS dikejar-kejar Fir’aun. Ketika itu, pengikut Nabi Musa sudah yakin mereka akan dapat terkejar, kemudian Nabi Musa AS menjawab “Tidak, Allah bersama kita dan akan meberi petunjuk bagi kita (Asy-Syuara : 61-62). Keajaiban kedua adalah proses terbelahnya laut ketika Nabi Musa AS melakukan eksodus tidak akan mungkin terulang. Manusia hanya bisa menjelaskannya dari sebuah simulasi computer, sebuah generalisasi berbasis asumsi yang masih merupakan pendekatan. Beberapa hasil penelitian metode numeric mereka sebaiknya dapat ditindak lanjuti dengan penelitian secara empirical method, atau melalui eksperimentasi di laboratorium, kiranya mungkin menjadi rekomendasi untuk penelusuran lebih lanjut.

Daftar Pustaka

Al Qur’an, “As Syuara : 60-67”


BBC Religion and Ethics (2002), “Moses”, www.bbc.co.uk/religion/


Bennett, JG (1963). “Geo-Physics and Human History: New Light on Plato’s Atlantis and the Exodus“. Systematics 1 (2). Retrieved on 2007-05-22.

Davis , EN (1990). A Storm in Egypt during the Reign of Ahmose. Thera and the Aegean World III. Thera Foundation. Retrieved on 2007-03-10.

Foster, KP, Ritner, RK, and Foster, BR (1996). “Texts, Storms, and the Thera Eruption”. Journal of Near Eastern Studies 55 (1): 1-14.


Friedrich, WL (1999). Fire in the Sea, the Santorini Volcano: Natural History and the Legend of Atlantis. Cambridge University Press. ISBN 0-521-65290-1.


Humpreys, C (2003), “Miracles of Exodus”, Cambridge University , Continuum International Publishing


Lilley, H, The wave that destroyed Atlantis, BBC News Online, 2007-04-20. Retrieved 2007-04-21.

 
LaMoreaux, PE (1995). “Worldwide environmental impacts from the eruption of Thera”. Environmental Geology 26 (3): 172-181. doi:10.1007/BF00768739.

Kovacs (2003), “Pharaoh’s chariots found in Red Sea ?”,WorldNetDaily.com

Phillips, G (2003). Atlantis and the Ten Plagues of Egypt : The Secret History Hidden in the Valley of the Kings. Bear & Company. ISBN 978-1591430094. 


Stolyarova, G (2004),”City Scientist Say Red-Sea Miracle Can be Explained”, St Petersburg Time, 20 January 2004.


Voltzinger, N. E.  and A. A. Androsov (2002),”Modeling the Hydrodynamic Situation of the Exodus”, Shirshov Institute of Oceanology ( St. Petersburg Branch), Russian Academy of Sciences

*) Master Candidate at School of Civil, Environmental, and Mining Engineering in The University of Adelaide Australia



Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.



Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

Judul Asli: Membangun Kemajuan Umat Islam Melalui Pengembangan Pengetahuan

Oleh: Endro Hermanto

(Materi ini disampaikan sebagai pengantar dan bahan diskusi MIIAS tanggal 16 Desember 2007)

Simaklah fakta-fakta dibawah ini:
  • Dalam kata pengantar buku berjudul ‘Culture matters’, Huntington membandingkan dua negara yaitu; Ghana dan Korea Selatan. Pada tahun 1960 ekonomi kedua negara ini nyaris sama. Mereka juga mempunyai persamaan dalam nilai ekspor dan pendapatan perkapita. Namun 30 tahun kemudian, Korea telah menjadi salah satu negara NIC (new industrial countries di Asia). Ghana masih berada pada posisi negara miskin.
  • Cina, oleh Dryden dan Vos (2001) dalam bukunya  ‘Learning revolution’ (2001) disebut sebagai raksasa ekonomi yang sedang bangun dari tidurnya. Cina sekarang ini menjadi negara yang sangat produktif dengan pertumbuhan ekonomi yang termasuk paling tinggi di dunia.
  • Singapura dan Malaysia saat ini menjadi negara sukses dalam mentransformasikan diri menjadi negara yang maju.
  • Jepang sampai saat makin menempatkan dirinya sebagai negara maju dan negara yang sangat diperhitungkan oleh dunia.
Apa kunci dari kemajuan bangsa-bangsa tersebut? Tidak lain adalah bahwa kemajuan sebuah bangsa dapat dicapai melalui pengembangan pengetahuan. “Pengetahuan menjadi sebuah sumber kekuatan ekonomi yang sangat penting dan keunggulan kompetitif bagi sebuah bangsa”, demikian kata Peter Drucker dalam bukunya ‘The practice of management’ (1989).
Tentu, kemajuan yang diraih oleh bangsa-bangsa tersebut bukan sesuatu yang datang begitu saja (taken for granted). Namun, bangsa-bangsa tersebut telah melakukan ikhtiar yang serius dalam melakukan pembelajaran dan pengembangkan pengetahuan untuk memperoleh kemajuan. Korea selatan misalnya, melakukan usaha yang mereka sebut sebagai ‘human investment’ (investasi manusia) melalui revolusi pendidikan dan pengembangan pengetahuan. Contoh kedua adalah Cina. Dalam artikelnya berjudul ‘China’s five surprises’, Edward Tse (dalam ‘Business the ultimate resources, 2006) menyebut istilah ‘five surprises of China’ sebagai faktor pendorong kemajuan China. Dua faktor dari ‘the five surprises’ berhubungan dengan pengetahuan, yaitu ; pengembangan penelitian dan usaha China untuk menarik para profesional dan kaum pintar untuk bekerja dan menetap di China (brain gain). Selanjutnya, kemajuan Singapura diraih berkat sebuah ‘master plan’ yang direncanakan matang sejak tahun 2000 yang disebut sebagai IT 2000 (Lim, 1999). Ambisi inilah yang mengantarkan Singapura menjadi negara yang sering disebut sebut sebagai ‘smart country’.
Kesempatan memperoleh kemajuan tentunya akan terbuka bagi setiap bangsa, termasuk umat Islam, dengan mengembangan pengetahuan. Yang diperlukan umat Islam adalah langkah-langkah yang strategis dalam pengembangan pengetahuan sebagai aset kemajuan bagi umat.
Strategi 1
PAHAMI ‘TEOLOGI PENGETAHUAN’ DALAM ISLAM
1.1 Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim.
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama? (QS. At-Taubah: 122).
Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam (Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, and Ibnu Adi, dari Anas bin Malik).
Logikanya, karena Qur’an dan Nabi Muhammad mewajibkan kaum muslim untuk menuntut ilmu, umat Islam seharusnya berperan sebagai ‘avant garda’ dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
1.2 Allah menyuruh manusia untuk menggunakan pikirannya.
Dalam banyak ayat dalam Al- Qur’an Allah menyuruh manusia untuk menggunakan pikirannya, diantaranya:
  • Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan (Qur’an, 88: 17-20).
  • Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi dan dalam pergantian siang dan malam  adalah tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir (3: 190).
Kegagalan menggunakan pikiran adalah analog dengan menurunnya derajat kemanusiaan menuju tingkat yang lebih rendah. “…Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ernak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”, demikian firman Allah dalam Qur’an ( 7: 179).
Dengan demikian, kebodohan dan kekufuran adalah hal yang di benci oleh Allah. Islam mendorong umatnya, bahkan seluruh manusia untuk menjadi cerdas, berpikir dan berpengetahuan.
1.3 Ayat-ayat Allah yang ada di alam semesta adalah lautan ilmu yang dapat dikembangkan manusia.
Dalam Qur’an, Allah menyeru kepada manusia untuk merenungi berbagai kejadian dan benda-benda alam yang dengan jelas menunjukkan keberadaan dan ke-Esaan Allah dan sifat-sifat-Nya. Menurut Qur’an, segala sesuatu yang menunjukkan kesaksian disebut ayat-ayat. Ayat-ayat di alam semesta merupakan lautan ilmu yang dapat diselidiki, ditemukan dan dibangun oleh umat Islam.   Perkembangan politik dan sosial, kegiatan ekonomi manusia, keserasian kosmik di jadat raya, atom yang merupakan materi terkecil, DNA dalam jagat mikro bahkan sampai denyut nadi manusia adalah ayat-ayat Allah. Surat An-Nahl ayat 10-17 menjelaskan garis besar ayat-ayat di alam semesta, diantaranya:
·        Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya (QS, An-Nahl, 12).
·        Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya (QS, An-Nahl, 13).
Menemukan dan mengenal ayat-ayat Allah memerlukan kerja keras umat Islam. Keberhasilan membaca ayat-ayat Allah di jagat raya akan menjadi faktor determinan bagi kemajuan umat Islam.
Strategy 2
SADARI BAHWA MODAL INTELEKTUAL MERUPAKAN ASET YANG SANGAT PENTING BAGI KEMAJUAN UMAT ISLAM
 “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu di antara kalian” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Mengacu ayat ini, dalam wacana sosial kontemporer, manusia berpengetahuan dalam sebuah bangsa disebut oleh Thomas Steward  sebagai  ‘intellectual capital’ atau modal intelektual (1998). Teori Skandia mambagi modal intelektual menjadi dua aras; ‘human capital (modal manusia)’ dan ‘structural capital’ (modal struktur). ‘Human capital’ adalah kemampuan dan ketrampilan manusia untuk sukses dalam rangka ‘bertebaran di bumi’ mereguk karunia Allah. ‘Human capital’ adalah wujud manusia yang tertampil, berpengetahuan dan memiliki sikap profesional. Ketika umat Islam terampil,  berpengetahuan dan profesional kita akan mempunyai ummah yang kuat. Ummah yang kuat adalah manifestasi dari modal struktur yang solid, seperti firman Allah; ‘Sesungguhnya Allah suka orang-orang yang berperang dijalannya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh” (Qur’an, 61: 4)   
Strategi 3
TERAPKAN  METODE YANG TEPAT DALAM MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN
OECD (Office of Economic Co-operation and Development) menyarankan tiga strategi untuk mengembangkan pengetahuan yaitu; penciptaan pengetahuan (knowledge creation/production), adopsi pengetahuan (knoweldge adoption) dan penyebaran pengetahuan (knowledge distribution) (OECD dalam Eliasson et al, 1990). Metode OECD ini  sebenarnya sama persis dengan ‘local wisdom’ dari budaya Jawa yang dikenal dengan 4 N yaitu; nemokake (menemukan), niroake (menirukan), nakokake (menanyakan) dan nebarake (menyebarkan).
3.1 Tingkatkan produksi pengetahuan (nemokake)
Dalam banyak penelitian, produksi pengetahuan bangsa-bangsa muslim termasuk rendah. Parameternya dapat dilihat dari rendahnya jumlah buku yang ditulis dalam setahun, hasil ‘research’ dan tulisan-tulisan yang muncul di jurnal-jurnal international. Kondisi ini tidaklah kondusif untuk membangun kemajuan. Kemajuan dicapai melalui alat yang mewujud dalam segenap pengetahuan dan infrastrukurnya yang harus dibangun oleh umat Islam melalui strategi ‘iqro’ seperti yang tersebut dalam poin 1.3. Pengetahuan tersebut akan menjadi solusi praktis bagi problem-problem kehidupan nyata umat Islam. Setiap muslim sebenarnya dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pengetahuan, misalnya dengan menulis buku atau menggalakkan penelitian. Ciptakan generasi muda Islam yang gemar membaca dan belajar. Bangun perpustakaan yang lengkap. Sediakan banyak bacaan-bacaan yang bermutu bagi umat Islam. Inilah prakondisi yang harus dibangun sehingga nantinya generasi-genarasi muda Islam akan menjadi generasi penghasil pengetahuan (knoweldge producer).   
3.2 Kembangkan adopsi pengetahuan (nirokake, nakokake)
Harus diakui, dalam lanskap pengembangan pengetahuan, bangsa Barat, Jepang dan negara-negara macan Asia lebih maju daripada bangsa Muslim. Sikap kerendahhatian untuk mengakui kemajuan bangsa lain adalah modal untuk adopsi pengetahuan. Sikap inilah yang menyebabkan Jepang sukses dalam melakukan adopsi pengetahuan dari Barat. Banyak buku Barat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Bahkan sekarang ini, pengetahuan ‘know how’ bangsa Jepang lebih unggul dari Barat. Tidak berlebihan kalau Akio Morita menulis buku ‘Made in Japan’ (1986). Dalam bukunya itu Morita menyebut bahwa renaisans kemajuan Jepang bersumber dari kehausan bangsa Jepang untuk melakukan adopsi dan inovasi pengetahuan.
Kalau umat Islam hendak mencapai kemajuan, adopsi pengetahuan menjadi sebuah alternatif yang perlu ditempuh. Kuasai bahasa Inggris. Kirimkan lebih banyak generasi muda Islam ke negara maju untuk menguasai pengetahuan terutama sains, pengetahuan ‘know how’, dan manajemen. Terapkan ilmu yang diperoleh untuk perbaikan dan kemajuan masyarakat Islam.
3.3 Kembangkan distribusi pengetahuan (nebarake)
Penyebaran ilmu pengetahuan diniscayakan ketika umat Islam dapat membangun sistem pendidikan dan infrastrukturnya yang memadai. Pelajari dan praktekkan temuan-temuan dalam dunia pendidikan. Manfaatkan hasil penelitian seperti ‘quantum learning’, ‘quantum teaching’, ‘learning revolution’ dan ‘multiple intelligence’. Terapkan praktek-praktek terbaik (best practice) dalam bidang pendidikan. Perbaiki kualitas para dosen dan guru. Kembangkan dan terapkan tekhnologi internet untuk penyebaran pengetahuan.
Strategi 4
TERAPKAN STRATEGI DOUBLE LOOP LEARNING: BUMIKAN QUR’AN UNTUK MENYEMAIKAN KEMAJUAN
Keberhasilan Muhammadiyah dalam memberdayakan umat bermula dari ketajaman mata hati KH. Ahmad Dahlan dalam melihat realitas kehidupan umat. Apa rahasia keberhasilan Ahmad Dahlan? Tidak lain adalah keberhasilannya membumikan Qur’an. Dari surat Al-Ma’un saja, Kiai Dahlan secara gigih membangun organisasi modern yang terjun langsung mengatasi permasalahan nyata umat. 
Dahlan telah menerapkan apa yang secara pribadi saya sebut sebagai pendekatan ‘double loop learning’ dalam membumikan Qur’an. Paradigma ini membuat dua asumsi. Pertama, Qur’an adalah entitas dari ‘revealed knowledge’ (ayat dan ilmu pengetahuan yang diwahyukan) sedangkan ayat-ayat di alam semesta ini adalah ilmu-ilmu Allah yang harus diselidiki dan ditemukan oleh manusia. Maka ayat-ayat di alam semesta dapat disebut sebagai ‘acquired knowledge’.  ‘Revealed knowledge’ menyediakan etos ‘do the right things’ sedangkan ‘acquired knowledge’ berkenaan dengan ‘do things right’. Revealed knowledge menjadi inspirasi dan alat kontrol bagi proses pengembangan ‘acquired knowledge’. Lihat figur di bawah ini:

AYAT-AYAT ALLAH
Qur’an
(revealed noweldge)
Inspirasi
Hukum-hukum Allah di alam semesta (acquired)

Figur 1: Double learning untuk membumikan Qur’an
Kalau ‘double loop learning’ ini dapat diwujudkan umat Islam tentu akan menjadi bangsa yang produktif yang banyak menghasilkan penemuan, penggalakan penelitan, pengembangan tekhnologi dan penerbitan jurnal-jurnal dan buku dalam segala bidang. Kondisi ini mensyaratkan dua hal. Pertama, umat Islam tidak hanya berhenti menjadikan Qur’an sebagai detektor halal dan haram atau sekedar jimat padat yang tidak difungsikan. Kedua, etos pengembangan ‘acquired knowledge’ harus lebih digalakkan karena ini merupakan panggilan Allah yang diinspirasikan melalui Qur’an.
Strategi 5
BERANILAH MELAKUKAN OTOKRITIK UNTUK MEMBANGUN KEMAJUAN UMAT
Islam adalah agama yang sempurna. Ajaran Islam adalah ajaran yang seimbang. Dan banyak lagi pencandraan akan keagungan ajaran Islam. Namun, Islam adalah sebuah hal dan umat Islam adalah hal yang lain. Umat Islam masih tertinggal. Ketertinggalan ini dalam banyak hal berkaitan dengan isu-isu yang bersifat teknis.  Pada konteks inilah kita harus berani keluar dari zona nyaman: keberanian melakukan evaluasi diri. Kritik tentu juga akan berkenaan dengan sikap mental atau proses dalam memahami Islam yang antitetis terhadap elan vital Islam sebagai agama yang mendorong pengetahuan. Kalau kita masih merasa senang pada zona nyaman, misal; tidak pernah mengevaluasi diri, terlalu asyik dengan perdebatan yang tidak produktif, terlalu menikmati menyalahkan bangsa lain dan tidak pernah mau belajar dari bangsa lain, asyik memberi label-label kelompok yang berbeda dengannya, dsb tentu kita tidak akan dapat melakukan pembelajaran. Alih alih untuk melakukan produktifitas membangun ilmu pengetahuan, energinya sekedar dihambur-hamburkan untuk hal-hal tersebut. Kemajuan akan diraih umat Islam kalau kita mampu untuk melakukan learn, unlearn dan relearn.
Dengan demikian, otokritik adalah wujud dari kepedulian terhadap umat, bukan penghinaan terhadap umat. Melakukan otokritik memang sulit. Beranilah keluar dari zona nyaman. Mari kita terapkan MBWO (management by walking around). Lakukan analisa SWOT terhadap peta keunggulan dan kelemahan keumatan. Mari kita susun MBO (management by objective) dan tawarkan solusi-solusi hasil kerja keras dan kerja cerdas terhadap masalah, jangan malah menjadi bagian dari masalah.
Strategi 6
BANGUN KESEIMBANGAN ANTARA ‘INTELLECTUAL CAPITAL’ DAN ‘SPIRITUAL CAPITAL’, PIKIR DAN DZIKIR
Dunia Barat telah membangun ilmu pengetahuan dengan etos materialisme. Etos ini adalah pendekatan pengembangan pengetahuan yang menafikan Tuhan, bahkan mematikan Tuhan. Dalam perspektif Islam, pendekatan materialisme adalah refleksi dari kejahatan teologis yang paling besar. Yang dibangun oleh umat Islam adalah ilmu pengetahuan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah melalui pembacaan dan pemahaman ayat-ayatnya demi untuk memajukan kualitas kemanusiaan. Dengan kata lain tujuan pengembangan pengetahuan dalam Islam adalah pencapaian keseimbangan antara dzikir dan pikir.
Dzikir dan pikir adalah dua sisi dari satu mata uang. Sejatinya, dzikir dan pikir dapat digunakan oleh umat Islam sebagai semacam ‘learning wheel’. Lihat figur di bawah ini.
Dzikir

Pikir

Figur 2: ‘Dzikir and pikir learning wheel’
Dalam model ‘Dzikir and  pikir learning wheel’ seperti figur di atas, pikir digunakan sebagai alat untuk merenungkan kreasi alam semesta dan ayat-ayat Allah. Seperti dalam ayat, ‘Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya)? (QS. 6: 80). Ikhtiar berpikir dalam rangka membangun pengetahuan ini akan mendorong proses dzikir, mengingat Allah dan mendekat kepada Sang Khalik, seperti firmanNya; ‘Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang –orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Rabb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (QS. 3: 190-191).
Jadi proses dzikir dan pikir ini adalah sebuah proses yang terus berputar dan saling mempengaruhi. Ketika paradigma ‘pikir and dzikir learning wheel’ ini diterapkan maka pikir akan menguatkan kecintaan pada Allah, sebaliknya dzikir juga akan mempertajam pikir dan pengembangan pengetahuan. Pikir merupakan perwujudan dari ‘intellectual capital’ dan dzikir adalah bentuk dari ‘spiritual capital’. Keseimbangan keduanya adalah idealisasi dari pengembangan pengetahuan dalam peradaban Islam.
Strategi 7
LAST BUT NOT LEAST: MARI LEBARKAN ‘CIRCLE OF INFLUENCE’ KITA!
Sebagai orang tua, apa yang dapat Anda berikan untuk pengembangan pengetahuan generasi muda Islam? Demikian juga sebagai guru, dosen, karyawan sebuah perusahaan, pegawai negeri ataupun sebagai lulusan dari Australia?
Pertanyaan-pertanyaan yang tampaknya sederhana ini susah dijawab karena kita sering berpikir global (think globally) namun lupa untuk bertindak lokal (act locally).
Konsep ‘cirlcle of influence’ dan ‘cirlce of concern’ dapat membantu kita dalam memberi kontribusi kepada umat. Lihat figur di bawah ini:
Circle of concern
Circle of influence

Figur 3: Circel of concern dan circle of influence
‘Circle of concern’ adalah apa saja yang menjadi perhatian kita namun berada di luar kontrol kita. Contoh, kita sering berdebat mengenasi isu-isu hegemoni budaya, globalisasi, amerikanisasi, imperalisme Barat dan isu-isu besar lainnya. Banyak dari isu-isu seperti ini yang berada di luar kontrol kita. Sayangnya, banyak dari umat Islam yang terlena bicara isu-isu besar tetapi gagal dalam memberi kontribusi hal-hal yang dapat ia lakukan untuk umat. Nah, hal-hal yang dapat kita lakukan inilah yang disebut sebagai ‘circle of influence’ misal, meningkatkan daya baca anak, membangun perpustakaan mesjid, mengupayakan perpustakaan sekolah tempat anak-anak kita belajar, menulis buku, meningkatkan penelitian dan lain-lainnya.  
Saya mengajak diri saya dan jamaah, mari kita lebarkan lingkar pengaruh kita sehingga kita dapat berkontribusi bagi kemajuan umat Islam.   Melebarnya ‘circle of influence’ adalah representasi dari meningkatnya kontribusi dari masing-masing individu muslim kepada umat. Kalau strategi-strategi yang saya tawarkan dapat kita laksanakan secara ‘integrated’, Allah akan memberi jalan kemudahan bagi kita dalam memajukan umat Islam. Insya Allah.
Wass.wr.wb
Pertanyaan untuk diskusi:
1. Di Qur’an banyak banyak mengandung ‘ayat-ayat pengetahuan’ namun ini tidak menjadikan bangsa Muslim maju dalam membangun pengetahuan. Menurut Anda faktor apa yang menyebabkan kondisi ini?
2. Menurut Anda, apa yang kurang dari pendidikan kita dalam mendorong generasi muda mencintai pengetahuan? Bagaimana solusinya?
3. Menurut Anda, institusi penting apa yang dapat digunakan untuk memajukan pengetahuan umat Islam? Bagaimana?
4. Kualitas orang tua seperti apa yang akan melahirkan generasi yang berpengetahuan?
5 Apa yang akan Anda lakukan dalam memberbaiki organisasi Anda melalui pengetahuan?
6. Bagaimana Anda memandang tanggung jawab moral lulusan Australia dalam mengembangkan pengetahuan?
7. Menurut Anda apakah ‘freedom of speech’ itu akan lebih kondusif untuk pengembangan pengetahuan dalam konteks masyarakat Islam? Ataukah Anda lebih setuju dengan penyensoran pikiran-pikiran tertentu?
Referensi:
Al-Qur’an,QS. (3: 90, 91; 6:80; 7: 179; 9: 122; 16: 10-17; 58: 11; 61: 4; 88: 17-20)
ELIASSON, G, FOLSTER, S, LINDBERG, T, POUSETTE, T & TAYMAZ, E 1990, The knowledge based information economy, Industrial institute for economy, Institute for Economic and Social Research, Stockholm.
DRYDEN G & VOS, J 2001, The learning revolution, Network Educational Press, ltd, Stafford.
DRUCKER, P. F. (1989) The practice of management, Heinemann Professional.
LIM, E 1999, ‘Human Resource development for the information literacy’, Asian Libraries, vol. 8, no. 5, pp. 143-161
MORITA, A. (1986) Made in Japan, New York, Dutton.
STEWARD, T. (1998) Intellectual Capital, New York, Doubleday.

oleh: Bpk. Dani Muhtada 
Salam,
Dear Jamaah MIIAS, wabil khusus Ustadz Adib (yang telah meminta versi tulis ini berulang-ulang), demikian kira-kira versi tulis dari pengantar diskusi tentang zakat minggu lalu di rumah Pak Jim/Mbak Nella.
Zakat merupakan salah satu instrumen kebijakan fiskal yang sangat penting di zaman Nabi. Zakat sangat berpotensi menghilangkan konsentrasi kekayaan di kalangan elit ekonomi tertentu. Tidak hanya itu, ia juga berpotensi meningkatkan produktivitas masyarakat dan konsumsi total. Jika dikelola secara profesional, apalagi jika ada dukungan politik yang kuat dari pemerintah (Indonesia), instrumen ekonomi ini juga dipercaya mampu mengurangi tingkat pengangguran dan kemandirian ekonomi.
Di bawah genggaman ekonomi neo-liberal seperti saat ini, masyarakat muslim Indonesia seharusnya mampu mengoptimalkan pendayagunaan zakat bagi kesejahteraan umum. Sayangnya, pengelolaan zakat masih menyisakan beberapa kendala konseptual dan teknis. Salah satu akar persoalannya ada pada formalitas zakat. Artinya, zakat hanya diangap sebagai kewajiban normatif, tanpa memperhatikan efeknya bagi pemberdayaan ekonomi umat. Akibatnya, semangat keadilan ekonomi dalam implementasi zakat menjadi hilang. Orientasi zakat tidak diarahkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, tapi lebih karena ia merupakan kewajiban dari Tuhan. Bahkan, tidak sedikit muzakki yang mengeluarkan zakat disertai maksud untuk menyucikan harta atau supaya hartanya bertambah (berkah). Ini artinya, muzakki membayarkan zakat untuk kepentingan subyektivitasnya sendiri. Memang tidak salah, tapi secara tidak langsung, substansi dari perintah zakat serta efeknya bagi perekonomian masyarakat menjadi terabaikan.
Beberapa aturan dalam fiqh zakat, jika diterapkan dalam konteks kekinian, juga mencerminkan hilangnya spirit keadilan sosial dan ekonomi. Misalnya aturan tentang nisab. Di zaman Nabi, nisab untuk beberapa harta kena zakat nilainya sama (Monzer Kahf, 1999). Nisab sapi (30 ekor) nilainya sama dengan nisab kambing (40 ekor) dan emas (20 dinar). Jika kita mengikuti aturan nisab tersebut saat ini, kita tidak bisa mengatakan bahwa 30 ekor sapi nilainya sama dengan 40 ekor kambing. Jika nisab sapi senilai Rp 150 juta (asumsinya 1 sapi = Rp 5 juta), maka nilai nisab kambing hanya sekitar 32 juta (asumsinya 1 kambing = Rp 800 ribu). Implikasinya, menjadi tidak adil bila seorang peternak kambing dengan omset senilai 32 juta dibebani kewajiban membayar zakat, sementara peternak sapi dengan omset yang sama (i.e., 32 jt) tidak dibebani kewajiban serupa hanya karena belum sampai nisabnya.
Persoalan nisab akan lebih tampak manakala kita menyertakan pertimbangan geografis. Jika diasumsikan nisab harta perdagangan senilai Rp 8,5 juta per tahun (asumsinya setara dengan nisab emas 85 gram menurut Yusuf Qardawi, dan 1 gr emas setara Rp 100rb), maka setiap pedagang muslim yang memiliki omset senilai itu, di manapun ia berada di Indonesia, wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 2.5%. Padahal, nilai uang Rp 8.5 juta bagi pedagang di kota-kota besar berbeda dengan nilai uang yang sama bagi pedagang di daerah-daerah terpencil. Logikanya, standar besarnya nisab pun mestinya berbeda pula, tergantung tingkat pendapatan ekonomi suatu wilayah.
Formalitas zakat juga menyisakan persoalan dalam hal penentuan harta kena zakat. Jika kita mengacu pada aturan fiqh klasik, maka harta yang wajib di zakati hanya logam mulia (emas dan perak), ternak (onta, sapi dan kambing), pertanian, perniagaan, barang tambang, dan barang temuan. Padahal, di masa kini, banyak sumber-sumber penghasilan besar terdapat di luar tujuh sektor tersebut. Dunia inidustri, entertainment, dan bisnis-bisnis jasa lainnya merupakan ladang penghasilan yang jauh lebih besar tingkat pendapatannya daripada pendapatan petani di Indonesia. Di tahun 2003 saja, pendapatan petani hanya sekitar 1,25 juta per tahun (Khudori, 2004) atau sekitar 100 ribu perbulan. Jumlah tersebut belum termasuk ongkos produksi dan transaksi yang dapat mencapai 75% (Yustika, 2003). Padahal, menurut aturan fiqh, mereka harus mengeluarkan zakat setiap kali panen mencapai hasil lebih dari 650 kg (gabah kering). Maka menjadi tidak adil jika para petani dibebani zakat dengan standar nisab sekecil itu, sementara pelaku-pelaku bisnis dan dunia usaha tidak hanya karena ladang pekerjaan mereka tdiak tersebut dalam fiqh klasik.
Model pendistribusian dana yang tidak menyertakan pemetaan ekonomi dan sosial juga menjadi cermin hilangnya spirit keadilan sosial ekonomi dalam zakat. Tidak sedikit muzakki yang langsung memberikan zakat kepada faqir dan miskin tanpa memperhatikan apakah dana zakat tersebut mampu meningkatkan level kesejahteraan mereka atau tidak. Muzakki mungkin hanya berpikir tentang hukum, bahwa cukup baginya mengeluarkan zakat, sehingga kewajibannya sebagai muslim gugur. Di sinilah pentingnya amil dalam proses penyaluran zakat. Lembaga amil yang profesional sangat diperlukan agar proses pengumpulan dana (fundraising) serta pendistribusiannya dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Salah satu membuatnya efektif dan efisien adalah dengan melakukan pemetaan sosial dan ekonomi. Susahnya, kadang-kadang kita menganggap amil hanya sekedar sebagai pos pengumpul zakat, tanpa tuntutan kerja optimal untuk usaha fundraising dan pola pendistribusian dana yang profesional. Amil semacam ini sebenarnya tidak layak menerima porsi dana zakat sebagaimana yang diamanatkan al-Quran (9: 60).
Melihat beragam persoalan teknis-konseptual seperti tersebut di atas, ada beberapa hal yang penting diperhatikan untuk lebih mengoptimalkan pendayagunaan zakat bagi keadilan sosial ekonomi serta kesejahteraan umum.
Pertama adalah konsep “harta kena zakat”. Perlu dicermati bahwa harta kekayaan yang dikenal di Madinah pada masa Nabi SAW hanyalah investasi dagang, tanah pertanian, serta logam mulia (emas dan perak) termasuk yang digunakan sebagai uang dan perhiasan. Masyarakat waktu itu tidak mengenal bentuk-bentuk kekayaan modern seperti yang dikenal pada masyarakat industri (Kahf, 1999). Ketika bisnis jasa dan industri menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat modern, maka harus ada pengembangan tentang konsep “harta kena zakat”, lebih dari sekedar harta-harta yang dikenal di masa Nabi. Jika tidak, maka institusi zakat akan kehilangan ruhnya sebagai penopang keadilan ekonomi dan kesejahteraan umum.
Kedua adalah standar konvensional nisab, yang  seharusnya sesuai dengan situasi sosial dan ekonomi lokal. Di atas telah disebutkan bahwa ada dua persoalan yang berkaitan dengan standar nisab. Pertama berkaitan dengan kesamaan nilai nisab pada harta-harta kena zakat. Kedua berkaitan dengan kesamaan nilai nisab pada daerah-daerah yang kondisi sosioekonominya berbeda. Untuk mengatasi persoalan ini, perlu ada sebuah tim penentuan nisab kontemporer, yang terdiri atas para ahli hukum Islam dan ekonomi. Tim ini akan merumuskan satu standar nisab bagi harta-harta kena zakat, sehingga nilainya semua sama, sebagaimana yang pernah berlaku di zaman Nabi. Selain itu, tim juga akan merumuskan standar “Nisab Minimum Regional” (NMR) dengan memperhatikan kondisi sosial dan ekonomi suatu wilayah. Dengan demikian tidak ditemukan lagi standar nisab yang bagi suatu wilayah terlampau kecil, sementara bagi wilayah lain justru sebaliknya.
Ketiga adalah soal konsep mustahiq. Upaya reformasi mustahiq ini sebenarnya pernah dikemukakan Masdar Farid (1993) lewat karyanya, Agama Keadilan: Risalah Zakat (Pajak) dalam Islam. Saripati ide Masdar tentang mustahiq ini penting dicermati, karena akan memungkinkan lembaga-lembaga zakat mendistribusikan dananya untuk kepentingan yang lebih relevan dengan kebutuhan sosial dan ekonomi saat ini. Misalnya tentang konsep budak. Sebagai salah satu penerima zakat yang ditentukan Alquran, budak saat ini sudah tidak ada. Namun, bukan berarti pos dana untuk budak sudah tidak ada. Dana untuk ini dapat disalurkan untuk membebaskan orang-orang yang tertindas atau tidak berdaya menghadapi kekuatan sosial dan ekonomi yang mengungkungnya. Dana untuk “budak” dapat dimanfaatkan misalnya untuk mendanai upaya advokasi korban-korban penggusuran dan meminimalisasi efek kapitalisme global bagi masyarakat kecil.
Keempat adalah penguatan posisi amil. Posisi amil sebagai salah satu mustahiq yang ditentukan Allah (QS. 9: 60) bukanlah tanpa maksud. Penyebutan posisi ini dalam Alquran mengisyaratkan bahwa Tuhan menginginkan adanya pengelolaan dana zakat yang profesional oleh institusi atau kelompok orang tertentu yang disebut amil. Mereka inilah yang melakukan upaya fundraising, sekaligus mengelola dan mendistribusikannya untuk kepentingan tujuan zakat. Untuk kerja mereka inilah mereka berhak mendapat sebagian dana zakat, dan karena itu nama mereka disebut dalam Alquran. Konsekuensinya, lembaga atau orang yang mengatasnamakan amil namun tidak mengeluarkan daya upaya untuk mengumpulkan, mengelola dan mendistribusikannya secara profesional, maka mereka tidak layak mendapatkan porsi dana zakat. Amil semacam ini justru menggerogoti spirit keadilan sosial dan ekonomi dalam zakat.
Berkaitan dengan penguatan posisi amil ini, peningkatan profesionalisme lembaga-lembaga zakat adalah factor kunci. Profesionalisme ini meliputi upaya proaktif dalam fundraising dengan dua tujuan: meningkatkan pendapatan dana zakat dan meningkatkan jumlah orang sadar zakat. Termasuk profesionalisme lembaga zakat adalah mengoptimalkan pengelolaan dana zakat untuk pemberdayaan ekonomi dan peningkatan sektor riil. Karena itu, lembaga zakat perlu memiliki pemetaan sosial ekonomi yang baik, sehinga dana zakat tepat sasaran. Selain itu, model penyaluran dana zakat yang produktif harus lebih menjadi orientasi lembaga-lembaga zakat, daripada pola-pola distrubusi dana konsumtif.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas, zakat akan lebih bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan produktivitas masyarakat luas. Sudah saatnya pengelolaan dana zakat mengikuti misi profetik yang diemban Nabi, yaitu misi keadilan distribusi ekonomi dan meminimalkan konsentrasi harta hanya pada kelompok elit tertentu. Barangkali negara masih belum mampu membebaskan diri dari kungkungan monster-monster ekonomi global. Namun dengan ajaran Muhammad, umat Islam dapat mengilhami pemerintah di negeri ini bagaimana cara berdiri di atas kaki sendiri dan melepaskan ekonomi kita dari neoimperialisme negara-negara kapitalis. Salah satunya melalui manajemen zakat profesional. Itu menurut saya.

Bagaimana menurut anda?

Diterjemahkan oleh Bapak Erwin. 

Assalamu Alaikum wr. Wb.

Dalam kesempatan ini saya mau berbagi dengan kawan mengenai khutbah id yang diadakan di Mesjid Khalil, Torens road oleh Syekh Amin. Mudah2an juga bisa bermanfaat bagi kawan yang lain.

Dalam khutbahnya sang khatib memulai dengan membacakan sebuah ayat yang terdapat dalam Surat al-Baqarah no. 266 yang artinya:

“Apakah kalian ingin seperti seseorang yang telah dijanjikan Jannah/surga (taman) yang di dalamnya berisi pepohonan (kurma) dan tanaman (anggur) beraneka ragam dan di dalamnya mengalir sungai2 yang menyuburkan pepohonan tersebut dengan buah2an yang banyak. Dan tatkala ia beranjak tua dan memiliki keturunan yang banyak tiba2 taman tersebut terkena badai/angin kencang (i’shar) yang menghasilkan api besar yang membakar seluruh tanaman yang ada di dalamnya. Demikianlah Allah swt. Menjelaskan ayat-ayatNya agar kalian senantiasa bertafakkur”

Ayat ini merupakan ayat yang sangat penting bagi kita sebagai umat Islam setelah 30 hari lamanya melaksanakan amalan2 khusus di bulan Ramadhan. Penting bagi kita karena jangan sampai anologi yang ada dalam ayat ini juga menimpa diri kita.

Di riwayatkan asbab nuzul ayat ini dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang mana suatu hari Umar bin Khattab (saat menjadi khalifah) bersama-sama para sahabat Rasul yang lain, kemudian Umar bertanya pada mereka mengenai sebab turunnya ayat di atas. Para sahabatnya hanya mejawab; “wallahu A’lam (hanya Allah yang tahu). Atas jawaban itu Umar lalu marah. Sang khatib menjelaskan bahwa Umar marah atas jawaban itu karena hal ini sesuatu yang harus diketahui bagi para sahabat. Sama saat seseorang menanyakan kepadamu tentang jumlah rakaat shalat yang diwajibkan Allah, kemudian jawaban yang diberikan hanyalah “wallahu A’lam” (hanya Allah yang tahu) maka tentunya jawaban ini akan mengecewakan atau saat ditanyakan tentang bulan di mana umat Islam diwajibkan untuk berpuasa, kemudian kalian hanya menjawab dengan “hanya Allah yang tahu” maka pastilah ini akan sangat mengecewakan karena berarti kalian tidak tahu atau tidak memperhatikan sesuatu yang crusial bagi anda (muslim).

Dalam hadis itu Umar akhirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun pada mereka yang telah banyak menghasilkan amalan-amalan dan kebaikan, yang dianologikan bagai tanaman dan pepohonan yang banyak menghasilkan buah-buahan, tiba2 saat mereka telah beranjak tua datanglah syetan dengan segala macam godaanya, akhirnya orang tersebut tergoda dan terjerumus dalam godaan syetan tersebut yang menyebabkan terbakarnya habis pohon dan buah amalan yang telah mereka pelihara selama ini.

Sang khatib menjelaskan kembali bahwa hal ini boleh jadi banyak menimpa di kalangan umat Islam yang telah selesai melaksanakan ibadah puasa. Saat bulan Ramadhan kemarin mereka giat mengumpulkan amalan-amalan kebaikan; menahan diri dari ghibah dan namimah (mengunjing dan menggosip), menahan nafsu serakah (sex dan material), membagi rezekinya (fitrah dan maal) pada orang yang membutuhkan, melakukan shalat malam, menggunakan hijab, menggaji, shalat tepat waktu, dll. hingga menjelang akhir Ramadhan. Namun, saat 1 Syawal mulai bergulir satu persatu amalan tersebut menghilang, menghilang seiring menjauhnya ia dari bulan Ramadhan. Menurut khatib hal ini berarti kita telah membiarkan taman yang telah kita jaga dan pelihara selama ini secara baik kemudian kita sendiri yang membiarkannya hancur lebur dilalap api. Inginkan kita seperti mereka ini?

Akhirnya dengan berakhirnya bulan Ramadhan ini bukan berarti berakhirnya segala amalan kebaikan yang telah dibina, namun diharapkan amalan ini terus berkelanjutan untuk selamannya.

Wassalamu Alaikum wr.wb.

Terjemahan dari Khutbah Id yang disampaikan oleh Syekh Amin di Mesjid al-Khalil, Torens Rd.

Ceramah KH. Ali MAschan Moesa. 
Belum lami ini (30/9 2007),  Masyarakat Islam Indonesia Australia Selatan kedatangan tamu yakni Bapak Dr. KH. Ali Maschan Moesa, M.Si, yang kebetulan sedang mengadakan safari Ramadhan di Australia untuk memberikan tausiyah di pengajian mingguan MIIAS dengan sahibul bait Bapak Ukar sekeluarga. Mengawali ceramahnya Dr. KH. Ali Maschan Moesa, M.Si  yang merupakan alumni S. 3 UNAIR Surabaya ini memberikan overview tantang macam-macam Ibadah. Menurut dosen senior di IAIN Sunan  Ampel Surabaya ini, ada beberapa macam kategorisasi Ibadah. Ada ibadah yang menekankan pada pelaksanaan aspek fisik, sebagaimana haji dan shalat, ada pula ibadah yang menekankan pada pencapaian keteduhan hati (qalb). Dalam konteks ini puasa masuk dalam kelompok Ibadah ruhiyyah yakni ibadah untuk menata hati. Meskipun pelaksanaannya seolah-olah fisik, yakni menahan lapar dan dahaga, namun sesungguhnya entri pointnya adalah tercipatanya tatanan hati yang bagus menuju pribadi yang muttaqien. Ada pula ibadah ibadah jismiyyah (fisik) bentuk pelaksanaanya adalah mengutamakan fisik, contohnya menyingkirkan batu di jalan untuk menyelamatkan orang lain juga merupakan bentuk ibadah.  Ada pula ibadah yang bentuknya diucapkan atau qauliyah, sebagaimana dzikir. Ada pula yang merupakan yang merupakan kombinasi, seperti shalat.
Ada yang ibadah yang jenisnya adalah maaliyah . Jenis ibadah ini tidak perlu ngomong, atau melakukan hal-hal yang fisik, dengan kontribusi harta yang dimiliki, seseorang yang mampu langsung mentasaharufkan atau mengamalkan hartanya untuk kebajikan…
Kata Pak. Ali, sapaan akrabnya untuk ibadah puasa ini sangatlah mudah, yakni cukup menahan diri atau  sering disebut sebagai al-imsak.. Menahan merupakan bagian spiritual exercise yang dalam istilah lain disebut sebagai bertapa, atau topo (yang berarti hatinya ditata). Di depan para jamaah yang hadir, pesan Pak kyai menegaskan bahwa semua macam bentuk ibadah tidak lain memiliki muara untuk membentuk pribadi muslim yang benar.
Pertanyaanya adalah lalu apa sebetulnya yang disebut dengan benar-benar Islam. Kalau ditelusuri maka, kata Islam berasal dari kata asalama-yuslimu, islaman. Kata Asalama bukanlah hanya selamat tapi akan tetapi“menyelamatkan”. Siapa yang disalamatkan, disebutkan dalam al-qur’an wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin, bukan hanya dibatasi orang-orang muslim saja.. Akan tetapi seluruh alam, jadi bukan hanya rahmatan li nash, akan tetapi seluruh  (ekosistem).
Mengapa terjadi gunung longsor, karena kita tidak mau menyelamatkan.  Karena alam tidak dirahmati. Maka sesungguhnya terjadinya bencana adalah merupakan timbal-balik dari perbuatan manusai itu sendiri (dhahara fasad….bima aidi nash). Orang Islam yang betul, menurut ketua PW.NU Jawa Timur ini, adalah sosok yang kapanpun dan dimanapun, memiliki misi menyelamatkan, membuat kedamaian.
Being Moslem, menurut pak Kyai yang energik ini tidak perlu diucapkan, daily life-nya mencerminkan pribadi Muslim yang menyelamatkan, itu jauh lebih esensial. Kalau ada orang yang mengaku Islam akan tetapi membuat orang lain tidak merasa nyaman, merasa takut, pasti ada “something wrong”, oleh karena itu berarti perlu dipertanyakan tentang konsep keIslama yang dipahaminya. Apapun yang tidak membuat proses damai bukanlah menceriminkan nilai-nilai agama Islam, meskipun dihadirkan dengan simbol-simbol-simbol keislaman.
Tidaklah mengherankan kalau di dalam al-qur’an sendiri, aspek-aspek syari’at (shalat puasa, dan haji)  turunnya adalah belakangan. Selama 30 tahun berada di kota Mekah Islam hanya berbicara dan menekankan akan pentingnya aspek iman dan tauhid. Jadi urutannya adalah Iman, Islam dan Ikhsan. Syari’at belakangan. Akhlaq dan iman menjadi prioritas, lalu syari’at, tegas pak Kyai. Namun bukan berarti meninggalkan syari’ah, keduanya haruslah berimbang.
Terhadap pertanyaan tips-tips Islam yang menyelamatkan dari para jama’ah selanjutnya Pak. Ali memberikan penjelasan tentang Islam sebagai Rahamtan Lil Alamin yang terdiri dari tiga aspek.
  1. Ayyakuna fardin masdara khairin lijama’atihi (masing-masing individu menjadi sumber kebaikan bagi orang lain). Jangan su’udzhon, arahkan fikiran menjadi positive thinking, karena allah tergantung persangkaan kita (ana inda abdika dzany). Dalam hal ini, pak. Kyai sangat piawai mengemas contoh-contoh ke dalam persoalan keluarga, bagaimana masing-individu tidak terpancing emosi dalam setiap problem keluarga. Makanya ibadah puasa adalah sebagai ibadah ruhiyyah sangatlah tepat.
  2. Iqamatu a’dalah (menegakan keadilan). Bukan law inforcement.. Penegakan hukum hanyalah instrumen atau alat untuk menegekkan menuju tercipatanya keadilan.
  3. Tahqiqu maslahah (terpeliharanya lima pokok, yakni hifdu din, nasl, mal, aql, dan hidzu nafs). Alalh memiliki sifat Rahman bagi manusia dan alam. Rahim allah adalah yang bersifat akhirat. Untuk itu hak kita adalah baik kepada sesama manusia.
Dalam perjalan pulang mengantar ke Bandara (diantar beberapa pengurus MIIAS yang lain)  saya sempatkan untuk bincang-bincang dengan Pak Kyai tentang menjamurnya fenomena warna-warni Islam. Menurut beliau, silahkan berbeda dalam menterjemahkan Islam, asal yang penting tidaklah truth claim. Untuk itu dialog antar berbagai pihak adalah sangatlah penting,  antar keyakinan haruslah transformative. Persoalan mana yang benar dan yang salah, biaralah itu urusan Tuhan atau Allah. Menurut salah satu candidate Gubernur Jatim bahwa proses adalah unfinished project. Kalau tidak ada dialog, maka yang terjadi seperti katak dalam tempurung atau  kerbau di kubangan, mudah dimanfaatkan oleh orang lain untuk diadu domba. Jadilah seperti kunang-kunang yang mencerahkan, memberikan sinar kepada orang lain.
Pak Kyai juga menjelaskan pemahaman Islam Kaffah, dalam hal ini universal bukan berarti anti local. Lihatlah kesuksesan para Wali ketika membawa masuknya Islam ke Indonesia,  mereka hadirkan Islam yang memberikan kerahmatan dan tidak langsung menghilangkan interior local. Aspek lokalitas penduduk setempat, tetap dihormati, akan tetapi substansinya sudah diganti dengan Islam. Tidaklah mengherankan kalau hampir 80 persen pada masuk Islam, karena hadir dengan konsep yang merahmati dan menyelamatkan.
Keberagamaan itu pilihan. Hal ini sebagaimana terekam dalam kisah Nabi Muhammad ketika memberikan pesan kepada para sahabat. Nabi mengatakan;  “janganlah kamu shalat ashar sebelum sampai di Quraidah”,.  Akan tetapi kenyataannya mungkin karena perjalanan yang panjang dan jauh, belumlah sampai di Quraidhah waktunya sudah  mau maghrib.. Ada dua pendapat.. kita sembahyang atau shalat di Jalan saja, atau tidak kita harus shalat setelah sampai di tempatnya (Quraidhah). Perbedaan ini  dilaporkan kepada nabi dan beliaupun membenarkan keduanya .
Lebih lanjut belau juga memberikan peta pemahaman Islam yang ringkasnya ada dua hal. Pertama, model Intrinsik yakni mereka yang menekankan pada substansi. Esensiya apa terhadap setiap bentuk. Kecenderungan substansi kadang dapat jatuh pada rasionalisasi beragama. Pesan beliau hati-hati dalam menggunakan akal, karena biasanya akal dapat memberikan pemahman belakangan. Contohnya adalah ketika kentut, mengapa orang harus beruwudhu kembali? Tidaklah cukup diusap pantatnya saja, Menjawab persoalan ini, Pak. Ali memberikan qiyas (analogi), orang yang sakit mata. Apakah ketika sakit mata, lalu matanya langsung disuntik? Meskipun yang disuntik pantatnya, tapi kan sembuh..
Kedua, model ekstrinsik yakni memahami dari aspek luarnya saja, simbol-simbol. Pemahaman ini menjadikan agama sebagai instrument  atau disimbolkan. Kecenderungan pemahaman ekstrinsik ini akan berbahaya, jika agama diletakkan sebagai “topeng”. Kedok untuk motif-motif tertentu.  Salah satu motif yang sangat empiric dan menonjol dewasa ini adalah ketika symbol agama tersebut dilekatkan untuk kepentingan politik (meraih kekuasaan).
Pak. Ali memberikan dua kemungkinan besar yang akan terjadi jika agama dekat-dekat dengann politik. Pertama, Radikalisasi Politik, dalam panggung sejarah Islam kenyataan ini telah memakan korban banyak, contoh sahabat Ali RA, dibunuh akibat radikalisasi politik, yakni klaim kebenaran kelompok yang mengakibatkan orang yang berbeda harus sama dan kalau tidak sama, atas nama agama lalu dibunuh  .Kedua agama ditempatkan sebagai instrument untuk mendapatkan kekuasaan atau politisasi agama, yakni  menempatkan agama sebagai pijakan untuk berkuasa. Istilah beliau adalah “ayat kursi”, kalau sudah mendapatkan kursi ayatnya dilupakan, janji ke konstituenya juga dilupakan. (religion or verses is used as a political tools to get power).
Acara ini ditutup dengan buka puasa bersama dan dilanjutkan dengan shalat teraweh berjama’ah di masjid kampus Flinders University. (Laporan dari M. Adib Abdushomad, Ketua MIIAS 2007-2008) 

Wasssalam 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.